Waspada Komplotan Copet Jembatan depan Menara Jamsostek Part 2
Setelah kejadian kecopetan itu, aku gak pernah lagi menaruh ransel dipunggung saat melewat tempat-tempat serupa, tapi berpindah didepan.hahaha. Aku memilih jalan memutar sampai daerah mampang atau gang depan gedung Cyber untuk pulang ke kos mencegat Kopaja 20 yang juga melewati daerah Kuningan. Rutinitas ini aku jalani sampai beberapa minggu. tapi suatu saat aku bosen juga, karena memang agak lebih jauh.
Anehnya, waktu berangkat kantorpun aku beberapa kali masih melihat copet itu beraksi ditempat yang sama. Biasanya memang sopir-sopir Kopaja itu, menurunkan ku sampe depan jamsostek, sementara kau bilangnya Wisma Mulia,huh!!.Beberapa kali aku lari ketakutan karena melihat copet itu bersiap beraksi. Padahal harusnya kan ngapain juga aku takut,toh dia gak akan nyopet aku lagi. Secara aku ga lewat situ lagi.hahah
Tapi kejadian itu terulang lagi. Entah kenapa pagi itu aku pulang memilih lewat situ. Karena capek memang. Pada saat aku naik tangga penyebrangan, aku liat 2 pria yang salah satunya adalah pencopet itu turun di tangga yang sama. Sadar kalo ternyata itu pria pencopet yang sama, aku menutup separuh mukaku dengan jilbab supaya tak dikenali. Kami sempat saling liat, karena memang aku mau memastikan kalo ternyata itu orang yang sama, dan mungkin dia mikir kalo dia pernah mengenaliku. Aku lihat mereka berdua terburu buru. Aku bingung, apa kiranya yang mereka kejar. Ternyata dia sedang mengejar seorang cowok dengan tas ransel di punggungnya. Aku penasaran. Ternyata tebakanku benar, pria si copet itu bener-bener merogoh tas itu sambil tergopoh-gopoh. Jarak yang cukup jauh dariku membuat aku gak bisa bantu korban pencopetan itu.hehehe. Ternyata satu orang beraksi, satu lagi sebagai mandor dan menjaga dari belakang. Aku pelankan langkah agar tak terlalu cepat sampai diatas jembatan. Aku masih melangkah diantara tangga-tangga jembatan itu. dan aku benar-benar heran, banyak orang yang lewat disitu, tapi tak seorangpun mau menghalangi aksi itu. Aku berhenti sejenak di tangga itu dan memperhatikan aksi mereka sambil berasa agak panik. agaknya mereka jg gagal beraksi, seperti susah banget menjebol tas korban.(kasian deh lo). Akhirnya aku teriakin saja dari atas jembatan itu, copeeeeeeeettt…wei…copet…!!.
Aku lihat copet itu bergegas berbalik dan gak jadi nyopet. Aku masih memperhatikan mereka agak kecewa karena kali ini dia gagal. dan aku baru sadar kalau ternyata mereka menunjuk-nunjukkan jarinya kearahku. walah…… Merasa aku terancam aku bergegas jalan cepat agak berlari kecil. Aku berbalik ke belakang, trnyata dia lari kearahku sambil masih terus-terus menunjuk-nunjukkan jarinya ke arahku. mungkin mereka bilang :
“woi…sialan lu…itu tuh anaknya tuh…itu tuh…!!sialan tuh anak…yang itu..wei yang itu ” sambil berlari lari kearahku.
Waktu itu aku merasa cukup terancam, jantung berdebar ga karuan, kaget bercampur gemetar gak karuan jg. Bergegas aku turun jembatan itu sambil masih terus sesekali berbalik melihat-lihat situasi dibelakangku. Jembatan memang waktu itu sudah agak sepi. Mereka terus mengejar. Untung pas udah sampai di bawah jembatan, langsung ada kopaja 66 berhenti. Aku langsung lompat keatas Kopaja itu sambil masih gemetar sapa tau copet itu juga naik ke Kopaja yang sama.uh…setelah yain dia ga ada disekitar situ, aku bisa duduk tenang.
Ah…aku ga mau lagi lewat tempat itu pagi dan sendirian. Mungkin memang copet-copet itu selalu mangkal ditempat yang sama dan yang sama (jangan lewatkan!!!). Aku jadi terus dan terus harus memutar jalan kalo mau pulang. Brimop dan security yang berjaga di kantor mengusulkan untuk mengadakan penjebakan copet dengan aku sebagai umpannya.hah!! yang benar saja, mungkin mereka akan langsung mengancamku kalau ketemu. sudahlah…mending aku memutar saja…aku ga mau juga harus diantar hanya sekedar sampai di penyeberangan itu. aneh ah…
tapi setelah kejadian itu, Bos merasa kurang care sama anak buahnya, sehingga tiap pulang kantor kami disediakan supir sendiri untuk satu tim, jadi gak perlu capek sampe di kosan. Walau sekarang aku harus jalan kaki saja setelah aku memutuskan untuk pindah kos saja. jaraknya gak jauh juga cukup 1,5 Km dari kantor dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. wew…sehat lah…walau kaki agak jadi kapalan.hahaha.
Well, ada yang bisa dipetik dari kejadian ini diantaranya,
1. Kenapa orang musti takut untuk sekedar menggagalkan aksi copet.
2. Kejahatan bisa mengintai anda dimana saja, kapan saja. maka WASPADALAH…WASPADALAH..!!
Buat teman-teman yang lewat daerah itu pagi-pagi jam berangkat ke kantor, bisa cukup waspada dengan aksi copet itu.
hehehehe


Waspadalah….